Chapter 1, Hopeless or Happiness?

Aku bukanlah wanita yang sering dilukiskan seperti novel-novel. Dengan rambut hitam yang panjang dan gaun putih selutut, ditambah paras yang sangat cantik. Atau seperti Cinderella, gadis beruntung dengan cerita cinta dan sepatu fenomenalnya itu. Bukan. Aku bukan orang seperti itu. Aku hanya seorang penjual bunga. Tapi, kasih sayang aku dapatkan tak kalah seperti mereka yang berada dinegeri antah-brantah itu. Meski aku juga tinggal dengan Ibu tiriku, tapi tidak ada sama sekali adegan saudara-tiri dan ibu tiri yang menyiksaku. Kadang novel atau dongeng itu sedikit melebih-lebihkan saja.—Nami

Bahagia. Ibarat seorang Ayah, Ibu dan anak-anaknya diruang keluarga bercerita kegiatan yang mereka lakukan seharian dan tertawa bersama sambil menikmati makan malam. Itu yang kalian gambarkan tetang sebuah  kebahagiaan? Menyebut kata bahagia saja lidahku seperti terkilir apalagi harus membayangkan? Yah, meski aku ini ganteng, kaya dan pintar tapi tetap saja ada kebahagiaan yang tidak bisa ku dapat. Kebahagiaan yang seperti itu hanya ada didalam dongeng anak usia 5 tahun—Heru

-0-

“Mala, bunga krisan yang kupesan tempo hari sudah datang?”

Gadis yang bernama Mala itu menganggukan kepalanya pelan, bahkan terkesan hati-hati.

“Sudah, Kak. Tapi, sebagian sudah membusuk!”

Nami yang mendengar langsung menolehkan wajahnya kearah adik tirinya ini. Dia terkejut.

“Membusuk bagaimana?”

“Mala gak tahu, tapi dari box 1 sudah ada beberapa yang busuk! Dari sananya,mungkin?”

“Jadi maksudmu Koh Aying ngirim kita bunga dengan kualitas rendah?”

Mala hanya mengangkat pundaknya.

“Yaudah kita jangan berspekulasi yang aneh-aneh. Kita tunggu kiriman bunga lagi, kalau ada yang gak beres baru kita bisa complain!”jawab Nami. Dia tidak ingin menuduh terlalu dini, karena hubungan kerja sama dengan Koh Aying selama ini berjalan baik-baik saja.

“Oh ya kemaren ada yang datang! Nyari Kak Nami katanya!”

“Nyari aku?”Nami mengernyitkan alisnya.

Mala mengangguk-anggukan kepalanya. “Katanya teman lama!”

“Teman lama?”

“Sebernarnya dia sih pesan karangan bunga, tapi sekalian nyari Kak Nami. Ini alamatnya, dia minta diantar nanti pas jam makan siang!”

Mala sambil menyodorkan kertas kuning kecil yang dia simpan dibawah tumpukan nota-nota hari itu.

 “Haikal Fredlysied, Marketing Div. Head, Tortoanara Group. 08xxxxxxxx19”

-0-

Ruangan yang berukuran besar ini terasa sangat kosong. Bukan kosong arti tidak ada furniture yang tidak mendukung. Salah besar jika kalian menganggap seperti itu, karena kardus pembungkus lukisan berwarna coklat itu baru saja dibuang tadi pagi. Namun kekosongan ruangan ini hanya bisa terbaca oleh mereka yang mengerti arti seni yang sesungguhnya, terbukti relasi-relasinya yang datang berkunjung keruangannya selalu memuji keindahan dan epic-an dari gabungan lukisan dan tatanan ruangan ini bukan arti dari perpaduan seni didalam ruangan ini.

Seorang pemuda muda itu menutup matanya. Istirahat sejenak dari segudang pekerjaan yang sebenarnya masih menunggu. Kepalanya berdenyut cukup keras. Dia hanya memijat keningnya pelan. Dia tak habis pikir, bukankah pekerjaan akan cepat selesai jika dikerjakan lebih dulu? Tapi sepertinya tidak. pekerjaanya akan semakin banyak, menumpuk dan selalu menyita waktunya.

“Pak Heru!”sapa seseorang dari balik pintu transparan. Yang terlihat hanyalah kepalanya saja. sedikit creepy.

“Ichal?? Masuk!”

Laki-laki yang di suruh masuk itu langsung berlari kedalam ruangan besar itu. Bukan tidak sopan atau bagaimana, dia memang akan menganggap Heru sebagai atasannya jika berada dikantor dan jika ada pegawai yang melihat, namun jika mereka pergi keluar tidak ada jarak pemisah mereka sama sekali.

Ngapain?”

“Memeriksa Laporan beberapa keuangan! Aku curiga ada keterlibatan bagian Produksi dengan Pendanaan!”

“Oh, Kasus 13 Miliar?”

Heru mengangguk-angguk setuju

“Belum ada titik temu atau petunjuk?”

Heru menggeleng pelan, “Bahkan aku tidak menemukan bukti apapun, mereka melakukan hal busuk ini dengan rapi dan terorganisir!”

“Terorgan-? Maksud kamu?”

“Banyak kalangan yang terlibat sepertinya! Bahkan mungkin Pemasaran juga terlibat.”

“Hah? Jangan bercanda kamu, Her! Aku sama sekali tidak mengamb—“

Heru hanya tersenyum kecil.

“Yang nuduh kamu siapa sih Chal? Kan ku bilang beberapa kalangan, kenapa kamu harus tersinggung dengan ucapanku, sih?”

“Yah, habis kamu bilang dari bagian pemasaran! Jelas-jelas aku kerja dibagian itu.”

Heru tetap menatap kertas yang berserak dimejanya, “tapi Her, dari mana kamu tau kalau bagian Produksi, Pendanaan dan Pemasaran punya keterkaitan dengan kasus ini? Katamu gak ada bukti sama sekali yang kamu temukan!”

Mendengar pertanyaan sahabatnya ini dia sedikit ingin tertawa keras.

“Hidup ini kejam, Chal! Dari kecil aku tinggal dengan para penghianat, Mana mungkin aku tidak mengerti gerak gerik mereka yang mengajari aku?”ucap Heru dengan nada makin merendah, yang memberi sarat akan kebencian tentang topik pembicaraan mereka.

“Heum, bentar lagi jam makan siang. Keluar yuk, Her!”alih Ichal dengan segera. Ia terlalu takut dengan beberapa topik yang mungkin saja bisa menyinggung Heru. Termasuk hal-hal yang berbau penghianat, karena dia tahu bagaimana tata hidup sahabatnya ini.

“Aku ada urusan diluar!”

“Urusan diluar? Tumben pas makan siang.”

Heru menuliskan beberapa tulisan pada buku agendanya, mungkin sejenis angka-angka yang tidak akan dipahami beberapa kalangan walaupun mereka melihat besar nominal tersebut.

“Mantan istri ngajak ketemu!”

Tuh kan, gak bisanya—APA?”

-0-

“Ada yang bisa saya bantu?”

Tanya ramah seorang receptionist yang berbaju merah itu pada Nami. Tak lama Nami pun memberikan kertas kecil kepada wanita yang berada dihadapannya itu.

“Oh, dari mana kalau boleh saya tahu?”

“Kios bunga “BAHAGIA”. Beliau memesan karangan bunga dari kios saya dan minta diantar kemari waktu makan siang!”

“Kalau begitu saya hubungi sekretaris Bapak Haikal dahulu! Mohon tunggu sebentar!”

“Oh, iya Mbak. Silahkan!”jawab Nami tak kalah ramah. Karena mungkin setiap hari bertemu dengan pelanggannya, secara alami dia akan ramah dengan semua orang.

“Beliau bersedia bertemu dengan anda, silahkan kelantai 5 untuk menemui beliau! ”

“Terima kasih ya mbak!”

Jawab receptionist dengan senyuman manis. Nami langsung pergi mencari lift untuk menuju lantai yang sekarang seperti berputar-putar dikepalanya. Diambilnya 2 karangan bunga yang terlihat sangat mencolok  dari tadi diruangan ini. Bisa dilihat karena setiap karyawan yang lewat pasti akan meliriknya, dengan berbagai ekspresi yang sulit ditebak, mungkin menyukai atau menganggap aneh. Termasuk 2 laki-laki yang berada di lain tempat itu. Mereka masing-masing melihat karangan bunga itu dan tanpa sengaja menatap satu sama lain. Membuat salah satu dari mereka memaksa untuk melenggang pergi.

Nami sekarang sudah berada dilantai 5. Dia berkeliling untuk mencari pintu yang bertuliskan ‘Marketing’ karena hanya petunjuk itu yang ia bisa cari sekarang.

“Nami!”

Merasa dipanggil, Nami langsung mencari sumber suara yang ia dengarkan barusan.

“Nami! Sini!”teriak seseorang laki-laki dari jarak yang cukup jauh dari Nami berdiri. Nami tidak bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu, namun dia tahu dengan baik siapa pemilik suara cempreng itu.

“Si-et?”

Laki-laki yang dipanggil “Si-et” itu memberikan tatapan tidak sukanya bahkan wajah yang tadi terlihat ceria berubah menjadi kesal.

“Haikal atau kalau mau Ichal lah biar ada kesan gaul-gaulnya. Ini sudah hampir 12 tahun loh Nam, tapi tetep aja manggilnya Siet!”

Nami terkekeh kecil. Jadi teman lama yang sedang mencarinya tempo hari adalah si Siet? teman yang selalu menjaga dan menemaninya dari bahan bully-an waktu SD dulu.

“Wah, kamu bener-bener jadi penjual bunga sekarang, Nam. Sukses juga impianmu itu!”

“Ah, bisa aja. Kamu juga, Et. Bisa kerja di perusahaan sebesar ini!”

“Aku kerja disini karena aku kenal orang dalam, Nam. Lagi pula ini diluar impianku tahu! Aku maunya tuh punya perusahaan besar bukan kerja diperusahaan besar! Diluar jalur itu!”

“Oh ya, ini bunganya!”kata Nami sambil menyodorkan sebaket bunga yang dari tadi digenggamnya.

“Aku pesan kan Cuma satu, Nam! Kok bawa 2?”mendengar pertanyaan temannya ini, Nami merasa geli. Sepertinya sifat polosnya masih saja ada.

“Ada yang pesan juga, jadi aku sekalian aja ngantarnya! Kalau bolak-balik kan jadi gak efesien.”

“Jadi kamu mau pergi sekarang, nih?”

Nami mengangguk-anggukan kepalanya.

“Masih pingin nostalgia lebih lama sama kamu Nam! Dan juga mau tahu kehidupanmu sekarang!”

“Maaf banget, soalnya ini juga udah terlambat! Lain waktu aja ya, Et!!”

“Mau kuantar, gak?”tawar Haikal ramah kepada Nami.

Nami menggeleng, “Gak usah, dekat aja kok. Di café Sofia dekat persimpangan sana!”

“Tapi, kalau main ke kiosmu kapan aja boleh kan?”

“Tentu aja, asal jangan sampai lewat jam 7, ya? Soalnya aku sudah tutup! He he he ya udah aku pergi dulu, ya! See you

Nami pergi meninggalkan Haikal yang masih tersenyum sambil melambai-lambaikan tangannya pada Nami.

-0-

Pelayan itu baru saja meletakan 2 cangkir kopi ekspresoo yang masing-masing bergambar kepala kucing dipermukaannya. Dan nampak sang perempuan menyeruput sedikit dari kopi tersebut. Sepertinya dia sangat menyukai jenis kopi dengan rasa itu.

“Gimana kehidupanmu belakangan ini?”tanya wanita yang bergelar mantan istrinya ini.

“Kenapa tiba-tiba jadi peduli tentang hidupku?”

Wanita itu meletakan cangkir dengan kasar. “Aku ini mantan istrimu tahu, jadi kalau aku peduli dengan kamu ya sah-sah aja lah!”

“Istri?,”

Serigaian sinis itu mulai kembali terlihat,” Jangan terlalu membual itu hanya status yang gak berguna, tidak lebih. Sudah cepat apa yang mau dibicarakan. Aku juga banyak kerjaan, Tisa!”

“Aku butuh uang lagi!”jawab wanita itu dengan nada tegas, sepertinya dia juga malas basa-basi terlalu lama. Karena orang yang dihadapannya ini juga sudah tahu bagaimana sifat dan sikapnya yang sesungguhnya. Jadi tidak usah ditutup-tutupi lagi.

“Uang bulan ini sudah habis semua!”tambahnya lagi membuat Heru menatap geli. Seperti yang dia duga, pasti ada maksud terselubung dibalik dipertemuan mereka. Mantan istri? Peduli? Yang benar aja.

“Bukannya awal bulan tadi sudah kukirim!”

“Kan  sudah kubilang kalau sudah habis!”

“Gila kamu!”

“Terserah lah kamu mau bilang aku gila atau aku sinting, kirimi aku uang! Aku lagi butuh banget!”jawabnya dengan nada kesal. Dia bahkan rela menjadi pengemis dihadapan mantan suaminya demi uang yang dia butuhkan itu.

“Kamu kira aku mesin ATM mu?”

Tisa tersenyum sinis, “Bukannya selama ini memang seperti itu?”

Heru mendesah pelan. Bagaimana bisa dia bertemu Ratu Iblis ini? Yang lebih parah mengapa bisa dia menikah dengan wanita ini. Jika bukan karena kedudukannya diperusahaan waktu itu, mungkin melihat wajahnya saja Heru tidak sudi.

“Berapa lagi kali ini?”tanya Heru yang mengeluarkan ponsel dibalik saku celananya. Tisa tersenyum sangat cerah sekali, sepertinya keinginannya akan terkabul dalam hitungan detik.

“40 Juta!”

“Makin gila aja kamu! Ini namanya pemerasan!” Heru langsung melotot tajam kearah Tisa. Dia kira uang sebegitu jatuh dari pohon? Kenapa enteng sekali dia menyebut nominal yang tidak sedikit itu.

Tisa memutar bola matanya, “Gak usah lebay deh, Her! Toh dikeluargamu nominal segitu tuh gak ada apa-apanya. Mana ada seorang mantan istri meras mantan suaminya? Kamu buat aku kaya penjahat, aja!.”

“Bukannya selama ini memang seperti itu?”jawab Heru yang menirukan persis seperti Tisa, lalu dia menuliskan beberapa angka di ponselnya. Dan tak lama bunyi sms berbunyi dari ponsel Tisa, kemungkinan sms banking dari transaksi yang baru dia terima dari rekening pribadinya.

“Permisi!!”

Kedua insane yang saling berada dalam kondisi ‘berbeda’ itu menoleh kepada seorang perempuan yang baru saja menegur mereka.

“Apa anda yang bernama Tisa Tortoanara?”

Wanita yang dihadapan Heru itupun mengangguk dan menampilkan senyuman mengejek kearah Heru.  Dan membuat si pengirim bunga tersenyum sumringah, akhirnya yang dicarinya ketemu.

“Maaf saya terlambat. Ini bunga yang anda pesan. Tolong tanda tangan disini!”

Sodornya kertas berwarna merah muda sebagai tanda jadi.

“Lain kali on-time ya mbak, aku ngasih uang juga ontime kan? Belajar professional dong! Kalau gak bisa professional, ya gak usah bisnis. Apa lagi kamu berurusan dengan aku, emang kamu tau gak siapa aku?  Tisa Tortoanara! Aku bahkan bisa beli kios kamu yang cuma segede kamar mandiku itu sekarang juga tahu!”bentaknya dengan suara lantang membuat beberapa penggunjung disana menatap kearah mereka.

Nami menjawab dengan tersenyum halus, “Saya meminta maaf atas ketidak nyamanannya, saya pribadi akan lebih berhati-hati dan berusaha lebih baik lagi. Terima atas masukannya kepada kami!“

Kata Nami dengan lembut dan halus. Baginya kepuasan pelanggannya juga merupakan kepuasan tersendiri yang tidak bisa dia dapat dari uang atau barang. Heru sesekali melirik kearah Nami, dia sedikit keheranan. Bagaimana bisa dia bisa se-sabar itu, walau jelas-jelas dia dihina didepan orang banyak? Kalau itu terjadi pada dirinya, mungkin karangan bunga yang  indah itu akan benar-benar bersarang dirambut coklat Tisa.

“Yaudah, pergi sana! buat apa kamu masih disini, toh udah kubayar juga kan!”

Nami sadar dan akhirnya tersenyum. Tak lupa juga dia pamit pergi walaupun sudah pasti tidak dijawab sama sekali oleh pelanggan ‘supernya’ ini.

“Tortoanara? Sejak kapan kamu diakui jadi bagian keluarga Tortoanara?”ejek Heru. Dia tak habis pikir, bagaimana Tisa menyebut dirinya dengan nama Tisa Tortoanara? Pernikahan mereka saja tidak lebih dari 3 minggu, kenapa dia seolah yang punya seisi bumi ini?

“Aku gak butuh diakui oleh keluarga kalian, apa lagi kamu! Hanya cukup menikah sebentar lalu cerai dan secara otomatis kastaku akan berbeda dari orang-orang yang kukenal dan mereka yang mengenalku, bahkan kakakku sendiri!”

Heru semakin yakin bahwa wanita yang bergelar mantan istrinya ini merupakan jelmaan setan. Mana mungkin seorang manusia punya pola pikir seperti itu? Bahkan dengan Kakaknya sendiri.

“Dan satu lagi, kamu nyebut apa? ‘Keluarga’? Itu bukan sebutan yang cocok sayang, karena kehidupan kalian itu lebih menyiksa dari pada seorang narapidana yang akan dihukum mati! Kamu ngerti maksud aku, kan? Oh ya  bunga ini buat kamu, terserah kamu buang atau simpan aku gak peduli, kegiatan formalitas seperti ini harus tetap dilakuinkan di ‘keluargamu’ kan? Cabut dulu, anyway thanks buat uangnya!”

Setelah berkata begitu, Tisa menghilang bagaikan angin. Sedang Heru menelaah setiap perkataan Tisa barusan. Tisa tidak salah berbicara, bahkan perkataanya memang fakta yang sesungguhnya. Bukan seperti orang-orang lihat atau wartawan tulis dimana dia selalu terlihat bergelimang kasih sayang dari orang tua, Kakak dan sanak saudara.  Hidup penuh formalitas dan kebohongan. Sudah dia jalani hampir 23 tahun hidupnya. Begitu pun dengan pernikahannya.

Baginya sudah terbiasa namun kadang dia juga ingin merasakan bagaimana kelembutan dan kasih sayang dari seorang ibu atau ayah, seperti bagaimana hak anak pada umumnya. Atau paling tidak dia bisa menciptakan nanti dengan keluarga kecilnya.

Dia mulai menatap luar gedung ini. Terlalu jenuh dengan pikiran dan keadaan. Tanpa sengaja dia matanya menangkap  penjual bunga tadi—Nami, dia terus tersenyum dan menyapa semua orang yang sepertinya mengenalnya, bahkan beberapa juga menyalaminya. Seperti dia sangat dicintai oleh orang-orang itu. Heru terus memperhatikan sampai tidak sadar tangannya ikut menopang dagunya. Merasa nyaman dengan apa yang dia lihat sekarang. Meskipun penampilan penjual bunga itu tidak secantik dan semodis Tisa, tapi sepertinya ada pesona tersendiri dari wanita itu.

“Apa yang ada didalam otak wanita itu sampai dia sebegitu bahagianya, uh?”

Bisik Heru, seolah dia bertanya langsung pada penjual bunga itu. Meski sudah pasti penjual bunga itu sama sekali tidak mendengarnya.

Apa  hanya aku yang sebenarnya tidak bahagia?

 

 

-to be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s